Berita

Kepala BPIP Sempatkan Sholat di Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

BY Pusdatin . 22 Agustus 2020 - 17:50

BENGKULU ;- Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof.Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Bengkulu. Sabtu, (22/8). Sebelum menghadiri acara seminar tentang nilai-nilai Pancasila dan pemberian penghargaan di Desa Sindang Jati di Kabupaten Rejang Lebong, Kepala BPIP menyempatkan mengunjungi rumah pengasingan Presiden pertama Sukarno alias Bung Karno di Anggut Atas, Ratu Samban, Kota Bengkulu, Bengkulu.

Didampingi Kakanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Drs. H. Bustasar, MS, M.Pd, Yudian Wahyudi mencuci muka dan berwudu di sumur tua serta shalat di kamar Bung Karno. Selain mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno, Kepala BPIP serta rombongan juga mengunjungi Benteng Marlborough di Kelurahan Kampung Cina Kota Bengkulu.

Kakanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Drs. H. Bustasar, MS, M.Pd mengapresiasi kunjungan kerja Kepala BPIP dan rombongan ke Bumi Raflesia. Dengan kunjungan ini, dapat menjadi motivasi dan semangat sendiri bagi masyarakat terkhusus keluarga besar kemenag di Bengkulu untuk mengenang betapa besar perjuangan pahlawan waktu itu.

‘’Semoga dengan kunjungan kerja ini, selain dapat memupuk tali silaturahmi juga dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat untuk memahami  makna dari nilai-nilai Pancasila serta mengenang arti penting sejarah kemerdekaan,’’ kata Bustasar.

Sementara itu, Yudian Wahyudi mengatakan Benteng Marlboroug dan Rumah Pengasingan Bung Karno menjadi saksi sejarah yang sangat bagus, dan saksi perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan yang silih berganti. Sehingga dengan saksi sejarah ini, masyarakat bisa mengenang bahwa betapa besar penderitaan masyarakat ketika itu. Namun dengan kekompakan dan kebersamaan,kekejaman itu bisa dilawan dengan bersatu melalui Proklamasi 17 Agustus 1945.

‘’Ini menjadi saksi bahwa  bangsa ini pernah berjuang dengan sangat berat, dan alhamdulilah berhasil. Termasuk Rumah Bung Karno juga saksi hidup, bahwa para pejuang harus menderita dalam rangka meraih kemerdekaan dan mempertahankannya,’’ pungkas Yudian.  

Karenannya sambung Yudian, peninggalan sejarah yang sangat mahal ini harus menjadi pelajaran oleh semua pihak terutama generasi penerus bangsa, dan masyarakat Provinsi Bengkulu harus patut bersyukur bahwa di Bengkulu ada saksi sejarah yang harus di pertahankan.  ‘’Dengan bukti sejarah ini, bagaimana kita bisa membayangkan betapa sulitnya hari itu, dan ini harus dipertahankan,’’ sambung Yudian Wahyudi.

Selain itu, makna dan hikmah lain menurut Yudi adalah pengalaman pahit sejarah ini bisa memberikan kehidupan bagi masyarakat Provinsi Bengkulu, dengan adanya sejarah ini, bisa dijadikan tempat berkumpul, sehingga mengedepankan ekonomi kreatif bagi masyarakat. ‘’Nah inilah yang harus disyukuri,’’ demikian mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta itu mengakhiri. 

Agenda kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Antonius Benny Susetyo, Plt. Deputi Bidang Hukum Advokasi dan Pengawasan Regulasi Dr.Ani Purwati, S.H., M.Hum, Direktur Pengkajian dan Materi Dr. Muhammad Sabri., M.Ag, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Surahno, S.H., M.H serta beberapa pejabat lainnya. (BM)