Berita

Salam Pancasila Terus Dipopulerkan untuk Teguhka Pancasila

BY Humas . 5 Juli 2022 - 15:49

Yogyakarta:-Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A, Ph.D menjadi narasumber pada Seminar Nasional "Meneguhkan Pancasila Sebagai Falsafah Bangsa dan Dasar NKRI" yang digelar Majelis Kridatama Pancasila di Yogyakarta, Senin (4/7/2022).

 

Dari awal paparannya, ia terus mempopulerkan Salam Pancasila kepada peserta kegiatan seminar tersebut.

 

“Pada intinya, BPIP ingin memperkenalkan salam yang dibutuhkan dalam menjaga persatuan Indonesia tanpa mengganggu akidah”, ujarnya.

 

Lalu, ia menyoroti bagaimana prestasi bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno, di awal masa kemerdekaan, sebagai sebuah negara baru.

 

"Bangsa kita ini bangsa terbaik di muka bumi dalam konteks pembangunan negara baru. Bikin negara baru yang terbaik di muka bumi adalah bangsa Indonesia," kata dia.

 

Dirinya juga mengatakan Soekarno mampu mengelola perbedaan yang terjadi di dalam negeri dan kemudian membawa Indonesia tampil di pentas internasional.

 

"Jadi Bung Karno itu, pada zamannya, merupakan tokoh ketiga dari tiga tokoh dunia. Yang pertama Presiden Amerika Serikat, kedua Presiden Uni Soviet, dan ketika Presiden Republik Indonesia," tandasnya.

 

Dalam kesempatan yang sama Wakil Kepala BPIP DR. Drs. Karjono, S.H., M.Hum mengakui dengan menurunya kesadaran masyarakat terhadap Pancasila, berdasarkan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terdapat 85 persen milenial terpapar radikalisme.

 

"Sehingga belakangan ini masih banyak penangkapan terduga radikalisme oleh para penegak hukum" ujarnya.

 

Ia menegaskan perlu ada penguatan kelembagaan sehingga BPIP tidak tetap kokoh dalam menjalankan tusinya yaitu membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila.

 

"Meski UU kita (RUU BPIP) belum di sah-kan tetapi kita lembaga lex specialis, namun kita mendorong UU BPIP segera disahkan agar BPIP tetap kokoh", ucapnya.

 

Dirinya juga menegaskan dengan diberlakukannya kurikulum Pendidikan Pancasila untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan tinggi yang ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan menjadi sebuah benteng penguatan Pancasila bagi generasi bangsa.

 

"Selain itu juga banyak Peraturan Peraturan yang erat dengan BPIP yang dapat memperkuat Pancasila salah satunya Perpres tentang PIP bagi generasi muda melalui Paskibraka", jelasnya.

 

Ia juga menyampaikan BPIP terus berupaya menginternalisasi berbagai program dan kegiatan melalui music, film, olahraga dan kuliner serta gotong royong membangun kampung dan Desa Pancasila. Disisi lain ia mengapresiasi program Pemerintah saat ini telah memenuhi unsur-unsur Pancasila salah satunya program harga BBM di Papua sama dengan di Pulau Jawa.

 

“Program Pak Jokowi mengenai harga BBM di Papua sudah sama dengan di Pulau Jawa itu sudah Pancasila banget”, ujarnya.

 

Pakar Geopolitik DR. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M mengatakan agar tidak punya multitafsir, kita harus mempelajari spirit kelahiran Pancasila berdasarkan pidato  sang proklamator Soekarno atau Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.

 

"Agar penjabaran terhadap seluruh falsafah dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara itu kita tidak dikooptasi oleh kepentingan kepentingan politik tertentu. Maka mau tak mau kita kita mempelajari spirit kelahiran Pancasila 1 Juni," kata dia.

 

Hasto yang juga Pembina Majelis Kridatama Pancasila menjadi pembicara kunci bersama Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi. Ketua Umum Majelis Kridatama Hanief S. Ghafur dan Wakil Kepala BPIP Dr. Karjono pun ikut menjadi pembicara.

 

Dia pun menyoroti bagaimana sekarang sesama anak bangsa mudah saling berantem dan mencela. Ini kemunduran dari spirit kebangsaan karena dulu Indonesia telah outward looking, melihat keluar dan tidak hanya jago kandang.

 

"Dalam situasi keterbatasan sumber daya saat itu, Indonesia bisa menggelar Konferensi Asia Afrika. Kemana spirit itu sekarang? Tugas kita sekarang memiliki kemauan melihat keluar. Agar kita tidak menjadi bangsa yang berpikiran sempit," harap Hasto.

 

Ketua Umum Majelis Kridatama Pancasila, Hanief S.Ghafur menyatakan, bahwa selama 23 tahun terakhir, terjadi disrupsi terhadap nilai Pancasila. Dan menurutnya, kehampaan Pancasila itu sangat berbahaya. Sebab bisa saja virus dari luar menjangkiti bangsa Indonesia.

 

Maka ke depan, menurut dia, kondisi disrupsi ini harus diatasi dengan memasyarakatkan Pancasila kepada seluruh anak bangsa dari segala lapisan.

 

“Bangsa ini harus sukses menyekolahkan seluruh anak bangsa di sekolah Pancasila, harus ada stempel aktif untuk sekolah mengenai Pancasila. Dan mudah-mudahan kehampaan dan kekosongan nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya, bisa diisi di masa mendatang,” kata Hanief. (*/ER)