Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia”

Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia”

Siaran Pers Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia” 3-4 December 2018, Surabaya  “Pancasila dalam taman sari peradaban dunia” adalah ungkapan simbolik yang sengaja dipilih untuk menegaskan Pancasila sebagai ideologi alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk mengatasi situasi dunia global dewasa ini. Globalisme, dengan segenap problem yang diciptakannya, telah menghadirkan dunia yang diintimidasi oleh arus radikalisme, populisme,

Siaran Pers

Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia”

3-4 December 2018, Surabaya

  1.  “Pancasila dalam taman sari peradaban dunia” adalah ungkapan simbolik yang sengaja dipilih untuk menegaskan Pancasila sebagai ideologi alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk mengatasi situasi dunia global dewasa ini. Globalisme, dengan segenap problem yang diciptakannya, telah menghadirkan dunia yang diintimidasi oleh arus radikalisme, populisme, dan ragam konflik yang mewarnainya. Ketika masyarakat dunia mengalami konflik yang berakar pada gelombang radikalisme dan populisme, ideologi-ideologi besar dunia tidak hadir dan tampil sebagai penyelesai masalah. Neoliberalisme memperparah situasi karena ideologi ini sedang dituduh sebagai sumber semua jenis kerentanan, ketimpangan, dan ketidakadilan global. Komunisme dan sosialisme juga tidak kunjung mampu membuktikan diri sebagai ideologi alternatif. Sementara itu, ideologi-ideologi berbasis agama— harus terlebih dahulu diuji oleh sejarah karena negara-negara berbasis agama justru menjadi potret buram konfik kontemporer.
  2. Dalam situasi seperti inilah, Pancasila kembali dilirik sebagai ideologi alternatif yang dipertimbangkan sebagai solusi atas situasi krisis dan konflik global tersebut. Pancasila terus membuktikan ‘kesaktiannya’ sebagai pondasi kebangsaan bagi Indonesia modern yang mampu menjadi payung bagi ragam perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, identitas, bahasa dan sebagainya. Dengan Pancasila, Indonesia mampu menjadikan perbedaan sebagai rahmat. Pengalaman kebangsaan Indonesia, setidaknya dalam tujuh puluh tahun terakhir, semakin meneguhkan pernyataan yang pernah dikemukakan oleh Ir. Sukarno ketika pidota di PBB pada tahun 1961. Dengan sangat percaya diri, isi Presiden pertama Republik Indonesia saat itu mengerucut pada tawaran Pancasila sebagai ideologi dunia.
  3. Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia” diadakan atas kerjasama antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, berusaha menjawab lima pertanyaan berikut: (1) Di mana dan bagaimana kedudukan Pancasila dalam ideologi-ideologi dunia? (2) Bagaimana Pancasila bisa menjadi soft power bagi kebangkitan Indonesia? (3) Bagaimana Pancasila bisa efektif sebagai alternatif bagi keadilan sosial dalam kecenderungan neoliberalisme dunia selama ini? (4) Bagaimana Pancasila seharusnya dimaknai dalam kecenderungan dunia yang makin diwarnai kecenderungan radikalisme dan populisme dewasa ini? (5) Bagaimana secara efektif menyosialisasikan Pancasila ke generasi muda dan milenial dalam era digital saat ini?
  4. Jawaban atas lima pertanyaan di atas diperlukan oleh pemerintah pusat (terutama dalam hal ini BPIP) maupun pemerintah provinsi (terutama dalam hal ini Bakesbangpol) untuk mempertajam proses pembinaan/enkulturasi Pancasila di dalam negeri dan mengkomunikasikannya secara internasional. Seminar Internasional ini diharapkan memfasilitasi kebutuhan pemerintah ini. Seminar Internasional ini juga diharapkan mampu mengidentifikasi daftar permasalahan terkait dengan keberadaan Pancasila dalam konteks globalisasi: ancaman dan alternatif solusinya yaitu cara-cara mengkomunikasikan Pancasila dan metodenya, dan lain-lain.
  5. Seminar Internasional ini diharapkan menghasilkan Laporan Eksekutif yang berisi rumusan kesimpulan atas beberapa pertanyaan dalam seminar dan rekomendasi kepada BPIP, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian/Lembaga terkait, dan organisasi-organisasi masyarakat untuk membuat kebijakan tentang pembudayaan/enkulturasi Pancasila di dalam maupun di luar negeri.
  6. 6. Untuk menjawab lima pertanyaan mendasar itu, Seminar Internasional “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia” dibuka dengan tiga pidato utama. Pertama, Pidato Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, “Kegagalan Liberalisme dan Pancasila sebagai ‘Working Ideology’.” Kedua, Pidato Plt Kepala BPIP, Prof. Dr. Haryono, “Pengantar Umum ‘Pancasila untuk Dunia’.” Setelah dua pidato utama dan sambutan Panitia di Sesi Pembukaan, Seminar Internasional ini dilanjutkan dengan lima sesi, masing-masing membahas satu topik sesuai pertanyaan dasar itu.
  • Sesi 1, “Pancasila dalam Taman Sari Peradaban Dunia,” menjawab tiga pertanyaan pemandu: Bagaimana kita memaknai juxtaposition Pancasila dalam konteks global, dalam era ‘post-ideology’? Bagaimana meningkatkan relevansi Pancasila di antara ideologi-ideologi dunia lainnya? Sumbangan apa saja yang bisa ditawarkan Pancasila untuk dunia yang lebih baik, dan bagaimana? Sesi 1 ini diisi tiga pembicara: Dr. Matti Schindehuette, Dr. Daniel Dhakidae, dan Dr. Ignas Kleden. Sesi ini dimoderatori oleh Dr Vinsensio Dugis.
  • Sesi 2, “Pancasila Soft Power Kebangkitan Indonesia,” menjawab dua pertanyaan pemandu: Bagaimana Pancasila diimplementasikan untuk mengembangkan dimensi sosio-budaya untuk kebangkitan nasional secara domestik? Syarat-syarat apa sajakah yang diperlukan untuk menjadikan Pancasila sebagai soft power untuk kebangkitan Indonsia dalam setting global? Sesi 2 ini diisi tiga pembicara: Dr (HC) Sudhamek, Dr. Airlangga Pribadi Kusman, dan Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., M.Phil., Ph.D. Sesi ini dimoderatori oleh Moch Yunus, SIP, M.A.
  • Sesi 3, “Pancasila: Jalan Keadilan Sosial dalam Neoliberalisme Dunia,” menjawab dua pertanyaan pemandu: Apakah ada alternatif untuk ekonomi neoliberal sekarang ini? Bagaimana Pancasila diimplementasikan untuk mencapai masyarakat yang lebih adil, secara ekonomik dan secara sosial? Sesi 3 ini diisi tiga pembicara: Dr Riccarado Eugine, Dr. Arif Budimanta, dan Dr. Fachry Ali. Sesi ini dimoderatori oleh Linggar Rama Dian Putra, S.Ant., MA.
  • Sesi 4, “Pancasila Penangkal Radikalisme dan Populisme,” menjawab dua pertanyaan pemandu: Mengapa ide-ide radikal dan populis tumbuh dalam konteks proses demokratisasi global? Sesi 4 ini diisi tiga pembicara: Prof. Dr. Ronald Lukens-Bull, Dr. Ali Munhanif, dan Joko Susanto, SIP, M.Sc. Sesi ini dimoderatori oleh Akhol Firdaus, M.Pd., M.Ag.
  • Sesi 5, “Pancasila ‘on the Net’,” menjawab dua pertanyaan pemandu: Bagaimana cara terbaik mengkomunikasikan Pancasila secara efektif melalui teknologi digital , terutama kepada generasii muda dan milenial? Bagaimana Panasila sebagai ideologi negara memanfaatkan media sosial untuk menggapai komunitas yang majemuk? Sesi 5 ini diisi dua pembicara: Prof. Dr. Anita Lie, M.Ed., dan Irfan Amalee, MA. Sesi ini dimoderatori oleh Ucu Martanto, MA.

7.   Selain pembicara dari luar dan dalam negeri, Seminar Internasional ini juga mengundang ratusan peserta. Para peserta tidaklah hanya sebagai target sosialisasi, tetapi proaktif dalam kegiatan seminar internasional ini. Para peserta terutama dinanti dan dihargai masukan-masukan dan pendapat-pendapatnya sehingga memperkuat dan meningkatkan kualitas kesimpulan dan rekomendasi yang dibuat oleh tim perumus. Oleh karena itu, para pembicara, para peserta, moderator dan tim perumus diharapkan bekerja serius untuk menemukan sejumlah kesimpulan dan rekomendasi sebagai laporan eksekutif sebagai masukan bagi para pejabat eksekutif, legislatif maupun judikatif terutama yang berada dalam kotak pembuat kebijakan (policy box) untuk memperkuat proses pembudayaan/enkulturasi Pancasila di dalam maupun di luar negeri.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE