Romo Benny Susetyo: Segera Kembangkan Pendekatan Antropologis

Romo Benny Susetyo: Segera Kembangkan Pendekatan Antropologis

JAKARTA- Saat ini penting menjaga keragaman dan kemajemukan dalam mengolah bangsa yang beragama terdiri dari berbagai etnis, suku, dan ratusan agama lokal. Maka dibutuhkan pendekatan antropologi budaya dalam pembangunan dan sehingga para pemimpin bangsa sadar bahwa Indonesia kaya dengan keragaman. Hal ini disampaikan oleh Romo Benny Susetyo Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di

JAKARTA- Saat ini penting menjaga keragaman dan kemajemukan dalam mengolah bangsa yang beragama terdiri dari berbagai etnis, suku, dan ratusan agama lokal. Maka dibutuhkan pendekatan antropologi budaya dalam pembangunan dan sehingga para pemimpin bangsa sadar bahwa Indonesia kaya dengan keragaman. Hal ini disampaikan oleh Romo Benny Susetyo Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Jakata, Rabu (4/9).

“Visi pemimpin daerah harus mampu menjaga kearifan budaya dan tata kelola pemerintahan bersendikan nilai Pancasila. Pendekatan antropologis mesti segera dikembangkan, agar tidak salah dalam membangun persatuan dalam kemajemukan,” ujarnya.

Menurutnya, etika pejabat publik yang mengedepankan nilai persatuan dalam menjaga keragaman dan keadilan sosial harus bersendikan martabat kemanusiaan.

“Kita berharap para elit politik memiliki politik bermartabat dalam mengolah republik ini. Agar bangsa ini mampu menghadapi persaingan global yang membutuhkan kemampuan untuk menjaga persatuan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal keragaman budaya sebagai potensi luar biasa bila yang menjadi aset dalam pembangunan masyarakat adil makmur bermartabat.

“Penting para pejabat dan elit Politik mengedepan keadaban politik berdasarkan keutaman publik,” tegasnya.

Tinggalkan Pendekatan Represi

Sementara itu, secara terpisah, Ketua Umum Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), AJ Susmono meningatkan bahwa kelemahan negara saat ini mengabaikan pendekatan antropologi kebudayaan, sehingga menjadi kelemahan dalam menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.

“Sudah saatnya para budayawan dan antropolog dilibatkan mengurus berbagai masalah yang muncul dimasyarakat. Sehingga lembaga negara termasuk Polri dan TNI belajar kebudayaan dan antropologi untuk bisa memenangkan hati rakyat,” ujarnya.

Menurutnya warisan Orde Baru yang masih terus dipakai hingga saat ini adalah pendekatan represi atas nama keamanan dan pertahanan tanpa melihat perubahan-perubahan kesadaran masyarakat yang sangat cepat.

“Tinggalkan pendekatan Orde Baru yang represif. Segera kembangkan pendekatan kebudayaan dan antropologis untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang menumpuk saat ini,” ujarnya. (Web Warouw)

sumber : bergelora.com

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE