Mengenang Cak Nur, Mengenang “Islam Yes, Partai Islam No”

Mengenang Cak Nur, Mengenang “Islam Yes, Partai Islam No”
Haul Cak Nur yang diselenggarakan di Gedung 165 Jakarta. Foto: law-justice.co/Teguh Vicky Andrew
https://law-justice.co/mengenang-cak-nur-mengenang-islam-yes-partai-islam-no-.html

Jakarta , Law-Justice.co – Hari ini (29 Agustus 2018) merupakan tepat 13 tahun Nurcholish Madjid atau Cak Nur meninggal pada 2005. Namun jargon “Islam Yes, Partai Islam No” yang dipopulerkan Cak Nur pada awal 1970an dinilai masih layak untuk kondisi Indonesia saat ini. Terutama menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada pemilu 2019 yang suhu politiknya

Jakarta , Law-Justice.co – Hari ini (29 Agustus 2018) merupakan tepat 13 tahun Nurcholish Madjid atau Cak Nur meninggal pada 2005. Namun jargon “Islam Yes, Partai Islam No” yang dipopulerkan Cak Nur pada awal 1970an dinilai masih layak untuk kondisi Indonesia saat ini. Terutama menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada pemilu 2019 yang suhu politiknya terus memanas.

Hal tersebut tidak hanya diakui oleh tokoh agama dari Islam, namun tokoh agama lainnya seperti Katholik dan Budha juga mengakui pemikiran tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut. Romo Benny Susetyo mengatakan pemikiran Cak Nur tidak hanya berkutat pada agama Islam melainkan juga soal kebangsaan. Karena itu, kata Romo pemikiran Romo masih relevan hingga sekarang.

“Kalau pikiran-pikiran yang membumikan Islam dan nasionalisme itu menyatu. Dan pemikiran Cak Nur itu kan selalu membawa kesadaran kita bersama menjaga nation. Maka sebenarnya pikiran Cak Nur membuka wawasan kita. Bahwa agama apapun, ketika nilai-nilai itu diajarkan secara utuh, pasti agama itu akan membawa kesadaran orang mencintai bangsa dan negaranya,” kata Romo Benny Susetyo dalam acara Haul Cak Nur dan Orasi Budaya di Gedung Menara 165 Jakarta, Selasa (29/8) malam.

Romo Benny menilai sekularisme yang dikenalkan Cak Nur merupakan kritik terhadap partai politik yang hanya semata memikirkan cara untuk merebut kekuasaan. Ketimbang mencapai tujuan utamanya yaitu kesejahteraan.

“Sebenarnya titik ketemu politik dan agama hampir sama. Hanya problem kita adalah akhir-akhir ini politik agama hanya dilihat parsial, bukan politik untuk mewujudkan kesejahteraan umum,” tambah Romo Benny.

Sementara itu, pemuka agama Budha Dhammasubho Mahathera dari Sangha Theravada Indonesia mengatakan Cak Nur merupakan sosok ilmuwan dan cendekiawan yang mampu berkontribusi menjaga peradaban Indonesia. Utamanya pemikiran sekularisme yang memberi batas antara keagamaan dan keduniawian. Sehingga kerukunan antar umat beragama di Indonesia dapat tetap terjaga.

“Pemikiran-pemikiran Cak Nur itu dibutuhkan dari zaman ke zaman hingga saat ini. Pertama Cak Nur sebagai sosok ilmuwan yang cendekiawan. Ilmuwan artinya seorang yang mempunyai kemampuan dunia akademisi, kemudian cendekiawan orang-orang yang mampu menerjemahkan bahasa ilmu menjadi lelaku baik secara pribadi maupun kebangsaan,” jelas Dhammasubho Mahathera.

“Pemikiran-pemikiran Cak Nur dibutuhkan untuk tegaknya sebuah peradaban yang memisahkan garis batas antara dunia di antaranya dunia sekuler dan dunia spiritualitas. Kalau mau diterjemahkan keagamaan dan kuduniawian. Banyak peradaban yang tidak jernih, tenggelam, sengketa dalam sejarah kemanusiaan, karena tidak jelasnya dunia ini.”

Sedikit berbeda, cendekiawan Islam Muhammad Quraish Shihab berpendapat Cak Nur telah berpolitik terhadap kondisi bangsa saat itu dengan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”. Sebab kata dia, partai politik saat itu tidak memperjuangkan kemaslahatan umat.

“Sebenarnya agama itu harus dipolitisir, hanya jangan salah pahami arti politisir. Dalam ajaran agama ada yang dinamakan siasat keagamaan. Siasat itu dalam upaya mengendalikan. Orang beragama itu mengendalikan yakni membawa sesuatu kepada tujuan yakni kemaslahatan,” jelas Quraish Shihab.

“Kalau ada lubang jalan di kanan, dia akan kiri jalan terus. kalau ada maslahat dia ke sana itu siasat. Agama begitu. Sayangnya politik sudah diartikan di luar makna itu. Maka kita tidak setuju kalau politisasi di luar makna kemaslahatan. Jadi Cak Nur berpolitik dalam ajaran agama itu.”

Quraish juga mengenal sosok Cak Nur sebagai ilmuwan yang berani mengemukakan ide dan berani dikritik jika ada pemahamannya yang salah.

Latar belakang “Islam Yes, Partai Islam No”

Istri Cak Nur, Omi Komariah Madjid menuturkan jargon “Islam Yes, Partai Islam No” bermula dari keresahan masyarakat saat itu. Sebab kampanye-kampanye partai Islam saat itu kerap mengaitkan pilihan seorang muslim dengan masuk tidaknya orang tersebut ke surga. Seseorang akan masuk surga jika memilih partai Islam, sebaliknya akan masuk neraka jika tidak memilih partai Islam.

“Nah itu meresahkan masyarakat dan bangsa ini, mungkin seperti Pilkada kemarin. Kemudian Cak Nur dipanggil menteri dalam negeri saat itu Amir Machmud. Sedikit mungkin dimarahin, mungkin maksudnya kenapa kamu diam saja, kamu ketua HMI, maksudnya dituntut ini kan kerjaan anda-anda,” tutur Omi Komariah.

Omi melanjutkan, Amir Machmud kemudian mencontohkan dirinya yang merupakan muslim tapi tidak memilih partai Islam. “Contohnya saya (red: Amir Machmud) ini seorang muslim saya mengerjakan semua rukun islam, saya salat, puasa, zakat bahkan sunnah puasa Senin-Kamis, sembahyang tahajud. Masa gara-gara partai saya bukan Islam, saya masuk neraka nanti. Cak Nur kemudian bilang ya tidak,” kata Omi menggambarkan sanggahan Amir Machmud.

Berangkat dari itulah, kata Omi, Cak Nur kemudian menegaskan bahwa memilih partai Islam itu murni tindakan sekuler yang tidak ada sangkut pautnya dengan nasib muslim masuk neraka atau surga. Namun ketika ada diskusi di Menteng kala itu, pernyataan Cak Nur tersebut banyak disalahartikan oleh masyarakat. Sebab peserta yang pada mulanya dibatasi,justru membeludak jumlahnya.

“Waktu itu karena hari sudah Jumat tapi diskusi hari Sabtu, Cak Nur yang ditunjuk, kenapa Cak Nur karena sudah banyak menulis di majalah-majalah. Cak Nur kemudian minta ini terbatas, ternyata keesokan harinya yang hadir banyak dan makalah Cak Nur diperbanyak. diskusi sebanyak itu yang tidak cukup sehingga banyak orang salah paham. Akibatnya Cak Nur babak belur setelah itu,” cerita Ommy.

Kendati mendapat banyak kritik, Cak Nur saat itu tidak menjawab karena dinasehati oleh Abdul Gaffar Ismail (ayahnya penyair Taufik Ismail) untuk diam saja.

“Bapaknya Taufik Ismail menasehati, kamu tidak usah menanggapi kritik-kritik itu. Sebagai anak muda, kamu diam saja, kalau ada kesempatan kamu sekolah saja. Karen itu Cak Nur tidak menjawab. Itulah sedikit di balik jargon ‘Islam Yes, Partai Islam No’.”

Portal nurcholishmadjid.org

Nurcholish Madjid Society meluncurkan portal nurcholishmadjid.org berbarengan dengan 13 tahun meninggalnya almarhum Cak Nur. Portal tersebut diharapkan dapat menyebarkan pemikiran-pemikiran Cak Nur kepada masyarakat Indonesia.

Pendiri Nurcholish Madjid Society Budhy Munawar Rachman mengatakan, salah satu yang mendorong pembuatan portal tersebut yaitu rusaknya kaset-kaset Cak Nur selama mengisi kuliah di Universitas Paramadhina.

“Karena kami mempunyai pengalaman yang sangat menyedihkan. Hilangnya dokumentasi suara Cak Nur itu, kami bertiga menjadi asisten Cak Nur selama 12 tahun. Selalu membuat rekaman dan dalam proses setiap rekaman harus ditranskrip. Dan bahan transkrip itulah yang menjadi ensiklopedi Nurcholis Madjid,” tutur Budhy Munawar.

Budhy Munawar menjelaskan semua buku Cak Nur ada di dalam portal ini. “Jadi kalau di-klik bukunya nanti akan keluar tulisan. Sengaja kami tidak keluarkan dalam bentuk ebooks, tapi sengaja per artikel dan masing-masing ada tahunnya. Itu tahun ketika diterbitkan,” imbuhnya

Menurutnya portal nurcholishmadjid.org akan terus dikembangkan agar lebih dinikmati semua kalangan, termasuk kalangan muda. Semisal dengan membuat poster, video dan hal menarik lainnya.

Portal nurcholishmadjid.org digagas Budhy Munawar Rachman dan Mirwan Andan, kemudian dikembangkan oleh Inspirasi.co dengan biaya dari Denny JA, dan beberapa pihak lainnya.

Sekarang portal ini dikelola oleh Nurcholish Madjid Society (NCMS). Pemimpin Redaksinya: Budhy Munawar-Rachman, dengan anggota Muhammad Wahyuni ​​Nafis dan Elza Peldi Taher.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE