Makna 91 Tahun Sumpah Pemuda dalam Merawat Persatuan Indonesia

Makna 91 Tahun Sumpah Pemuda dalam Merawat Persatuan Indonesia

Jakarta – Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah ini dianggap sebagai semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yakni ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu bahasa Indonesia. Sumpah pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda di zaman itu seperti M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifuddin,

Jakarta – Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah ini dianggap sebagai semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yakni ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda di zaman itu seperti M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifuddin, Johanes Leimena, dan WR Soepratman memuat banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti sikap patriotisme, gotong-royong, persatuan dan kesatuan, cinta damai, serta tanggung jawab.

Namun di zaman teknologi dan informasi seperti sekarang ini, Sumpah Pemuda juga bisa dimaknai dalam konteks perubahan dunia yang begitu cepat akibat kemajuan teknologi dan informasi itu sendiri.

Rohaniawan Benny Susetyo, atau yang akrab disapa Romo Benny, berpendapat bahwa generasi muda saat ini butuh memaknai nasionalisme dalam konteks digital untuk menghadapi berbagai perubahan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihak Litbang Kompas, sebanyak 83 persen pemuda Indonesia yakin dapat menjaga keutuhan NKRI.

“Peranan kaum muda ke depan mampu untuk mengaktualisasikan nilai persatuan dan keragaman dalam mewujudkan nilai Pancasila khusus merawat ingatan akan kemajemukan,” ujar Romo Benny saat diwawancarai DW Indonesia, Senin (28/10).

Menurutnya, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pemuda saat ini, antara lain yaitu rendahnya budaya literasi dan membaca. “Ini mengakibatkan kultur kebohongan menjadi bagian cara berpikir, bertindak, perilaku dalam menyebarluaskan kebohongan yang menggunakan sara,” terang Romo Benny.

Lebih lanjut, menanggapi banyaknya aksi generasi muda turun ke jalan untuk berdemo mengkritik kebijakan pemerintah akhir-akhir ini, Romo Benny yang juga merupakan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menganggap itu wajar selama dilakukan tanpa kekerasan.

“Generasi muda menjadi penggerak perubahan dengan membangun kultur kritis dan tetap menjaga moralitas bangsa,” jelasnya.

Generasi 28 seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Syahrir, menurutnya bisa menjadi inspirasi generasi muda saat ini dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menyesuaikan sarana yang ada saat ini.

“Ke depan generasi muda belajar dari generasi 28 yang mampu menyatukan bangsa ini dengan cerdas mengubur politik indentitas,” jelas Romo Benny.

“Dibutuhkan generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dengan mengarusutamakan kemajemukan dan kekuatan teknologi memperkokoh persatuan,” pungkasnya.

BPIP
ADMINISTRATOR
PROFILE