BPIP Ajak Pelajar Indonesia di Luar Negeri untuk Berpikiran Terbuka dan Berprestasi

(Melbourne, 05/07/2019) – “Kita mengetahui bahwa salah satu karakter generasi milenial adalah akrab dengan komunikasi, media dan teknologi digital. Mereka ini mudah untuk memperoleh informasi. Namun kemudahan mendapatkan informasi seringkali tidak lantas diikuti dengan kebiasaan cek dan ricek kebenaran dari informasi tersebut,” demikian disampaikan Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasika (BPIP) Hariyono saat menyampaikan paparannya

(Melbourne, 05/07/2019) – “Kita mengetahui bahwa salah satu karakter generasi milenial adalah akrab dengan komunikasi, media dan teknologi digital. Mereka ini mudah untuk memperoleh informasi. Namun kemudahan mendapatkan informasi seringkali tidak lantas diikuti dengan kebiasaan cek dan ricek kebenaran dari informasi tersebut,” demikian disampaikan Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasika (BPIP) Hariyono saat menyampaikan paparannya yang berjudul “Memaknai Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dalam Menghadapi Bonus Demografi di Indonesia” yang disampaikan di hadapan pelajar dan mahasiswa Indonesia peserta Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) di Universitas Monash, Melbourne, 5 Juli 2019.

“Akibatnya, di era post truth atau pasca-kebenaran yang populer sejak 2016, kebenaran informasi bukan didasarkan pada data/informasi yang faktual, namun lebih didasarkan pada intensitas penyampaian informasi yang disampaikan secara berulang-ulang di ruang terbuka. Karena dikirimkan berulang-ulang, maka suatu informasi lama kelamaan bisa dianggap menjadi kebenaran. Akibatnya pula mereka tidak bisa membedakan informasi hoax atau tidak,” tambah Hariyono.

“Karena itu pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri seperti anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) hendaknya bersikap kritis dan terbuka (inklusif) terhadap suatu permasalahan. Para pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri ini hendaknya mau menempatkan dirinya ke dalam cara pandang orang/kelompok lain dalam melihat dan memahami suatu permasalahan, baik pada saat sedang belajar di luar negeri atau setelah kembali ke tanah air. Jangan setelah kembali ke tanah air malah turut serta berpandanghan eksklusif, bersikap anti toleran dan menolak pluralisme” demikian ditekankan oleh Hariyono.

Hariyono lantas mencontohkan bagaimana masyarakat Australia yang secara historis terbentuk dari beragam masyarakat yang berbeda justru dapat menerima keberagaman dan hidup berdampingan satu sama lain dengan damai berdasarkan pandangan walau berbeda tapi satu. Pandangan ini sesungguhnya sejalan dengan pandangan bangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika (walau berbeda-beda tetapi tetap satu) yang sudah ada ribuan tahun lalu, namun kemudian mulai terlupakan karena masuknya pengaruh ideologi yang akan menggantikan Pancasila.

“Jadikan Pancasila sebagai laku hidup yang menyenangkan dan membawa harapan, bukan sekedar wacana yang harus dihafal. Pancasila dijadikan sebagai landasan untuk melihat realitas sekaligus membawa perubahan realitas sebagai sumber nilai, inspirasi, dan prestasi. Di era teknologi informasi dewasa ini, untuk mengamalkan Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara yang penuh harapan memerlukan perjuangan, kecerdasan, serta penguasaan IPTEK oleh generasi muda agar misi kebangsaan untuk menjadi merdeka, bersatu, berdaulat, maju, adil dan makmur dapat terwujud. Bonus demografi menjadi tantangan sekaligus peluang bersama,” demikian ditekankan Hariyono lebih lanjut.

Untuk memberikan gambaran mengenai pentingnya prestasi, Hariyono kemudian mencontohkan “mutiara-mutiara Pancasila” yang ada di dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Contoh pertama adalah atlit yang bertanding dalam suatu event olah raga. Para atlit tersebut hanya dapat mengharumkan nama negaranya di puncak tertinggi, dengan pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, jika sang atlit menjadi juara. Sehingga agar bisa menjadi juara dan mengharumkan nama bangsa, atlit berlatih dengan sungguh-sungguh jauh-jauh hari sebelum pertandingan. Bagi Hariyono, laku perjuangan para atlit tersebut sudah mencontohkan laku Pancasilais tanpa kata-kata.

Contoh lain adalah laku para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang sejak muda rajin belajar dan berdialog serta membaca dimanapun berada, bahkan saat dipenjarakan oleh tentara kolonial Belanda pun mereka membawa buku-buku dan membacanya. Mereka pun berprestasi di bidangnya masing-masing. Selanjutnya Hariyono juga mencontohkan perilaku anggota masyarakat/komunitas yang atas inisiatifnya sendiri melakukan inovasi dan pemberdayaan masyarakat seperti yang dilakukan Boy Iriawan di Blitar yang mampu mengembangkan varietas padi unggul melalu percobaan tanpa kenal putus asa selama beberapa tahun atau kelompok masyarakat di Tangerang yang membangun kampung hidroponik sehingga menjadi kampung yang bersih dan asri serta menghasilkan secara ekonomis.

Pemaparan Hariyono di acara KIPI 2019 yang berlangsung pada 3 – 7 Juli 2019 menjadi pemuncak kegiatan untuk membekali para pelajar dan mahasiwa Indonesia yang sedang belajar di Australia mengenai materi Ideologi Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Pembekalan ini juga dimaksudkan sebagai bagian dari upaya membangun dan memperkuat semangat kebangsaan Indonesia. Selain dari BPIP, hadir pula sebagai pembicara adalah Walikota Bogor Bima Arya yang juga merupakan mantan pengurus PPIA, peneliti Ariel Heriyanto, Atase Perdagangan dan Atase Pendidikan pada KBRI Canberra.

Apresiasi tinggi layak dilayangkan kepada PPIA yang memandang penting pembekalan ideologi Pancasila bagi pelajar dan mahasiswa di luar negeri karena pembekalan ideologi harus terus diberikan secara berkala dan periodik sehingga pelajar dan mahasiswa Indonesia di rantau senantiasa paham akan ideologi Pancasila, cinta tanah air, dan tidak lupa akan kewajibannya untuk bersama-sama membangun dan memakmurkan Indonesia sesuai ilmu yang mereka pelajari di luar negeri.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE